PDM Bukittinggi Gelar Silaturahmi Ulama dan Da’i Muhammadiyah Bersama Buya Gusrizal

Bukittinggi,11 Maret 2026 – Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Bukittinggi menyelenggarakan kegiatan Silaturahmi Ulama, Da’i, Mubaligh dan Kader Persyarikatan Muhammadiyah yang mengangkat tema “Peningkatan Kapasitas Da’i dan Muballigh Muhammadiyah untuk Mewujudkan Konsistensi Pengamalan Tarjih dan Kader Persyarikatan.” Kegiatan yang berlangsung di Masjid Baitul Jalal Muhammadiyah Bukittinggi ini menghadirkan narasumber utama Dr. H. Gusrizal Gazahar, L.C., M.Ag, yang dikenal luas sebagai ulama dan tokoh pemikiran Islam di Sumatera Barat.

Kegiatan ini dihadiri oleh para mubaligh dan mubalighah Muhammadiyah dari berbagai unsur persyarikatan, mulai dari tingkat Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) dan Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM), pimpinan Aisyiyah melalui PCA dan PRA, pengurus Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), hingga kader dari berbagai Organisasi Otonom (ORTOM) Muhammadiyah. Kehadiran para peserta dari berbagai unsur tersebut menjadikan kegiatan ini sebagai forum penting dalam mempererat silaturahmi sekaligus memperkuat kualitas dakwah Muhammadiyah di tengah masyarakat.

Kegiatan dimulai dengan pembukaan oleh pembawa acara yang memandu jalannya kegiatan dengan tertib dan penuh khidmat. Suasana Masjid Baitul Jalal yang menjadi lokasi kegiatan tampak dipenuhi oleh para peserta yang hadir dengan semangat kebersamaan dan keinginan untuk memperdalam pemahaman keagamaan serta memperkuat peran dakwah Muhammadiyah.

Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Saudari Reni. Lantunan ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan dengan penuh penghayatan menciptakan suasana spiritual yang mendalam. Para peserta menyimak dengan penuh perhatian, menjadikan momen tersebut sebagai pengingat akan pentingnya menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber utama dalam dakwah dan kehidupan umat Islam.

Pembacaan Al-Qur’an tersebut menjadi pembuka yang sarat makna, sekaligus menegaskan bahwa seluruh aktivitas dakwah Muhammadiyah harus senantiasa berpijak pada nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah.

Setelah pembacaan ayat suci Al-Qur’an, kegiatan dilanjutkan dengan kata sambutan sekaligus pembukaan acara oleh Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bukittinggi, H. Gafnel, S.HI., M.H.

Dalam sambutannya, beliau menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan silaturahmi tersebut. Ia menilai kegiatan ini memiliki peran strategis dalam memperkuat jaringan dakwah Muhammadiyah serta meningkatkan kapasitas para mubaligh dan mubalighah dalam menjalankan tugas dakwah di tengah masyarakat.

Menurutnya, mubaligh Muhammadiyah merupakan ujung tombak dakwah persyarikatan yang memiliki tanggung jawab besar dalam menyampaikan ajaran Islam yang berkemajuan. Oleh karena itu, peningkatan kualitas keilmuan, pemahaman terhadap manhaj tarjih, serta penguatan kaderisasi menjadi sangat penting.

Beliau menegaskan bahwa Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah Islam amar ma’ruf nahi munkar harus terus memperkuat basis keilmuan para kadernya, khususnya para da’i dan mubaligh yang secara langsung berinteraksi dengan masyarakat.

“Melalui kegiatan silaturahmi ini, kita berharap para mubaligh Muhammadiyah semakin memahami manhaj tarjih dengan baik sehingga mampu menyampaikan dakwah yang mencerahkan, argumentatif, dan tetap menjaga ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat,” ungkapnya.

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya sinergi antara berbagai unsur Muhammadiyah, baik pimpinan persyarikatan, Aisyiyah, amal usaha, maupun organisasi otonom. Sinergi tersebut dinilai penting agar dakwah Muhammadiyah dapat berjalan secara lebih terarah dan memberikan dampak yang luas bagi umat.

Di akhir sambutannya, H. Gafnel secara resmi membuka kegiatan Silaturahmi Ulama, Da’i, Mubaligh dan Kader Persyarikatan Muhammadiyah Bukittinggi dengan harapan kegiatan ini dapat menjadi sarana penguatan dakwah Muhammadiyah di masa yang akan datang.

Setelah acara pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan pengantar materi oleh Dr. H. Gusrizal Gazahar, L.C., M.Ag yang akrab disapa Buya Gusrizal.

Dalam pengantar materinya, Buya Gusrizal menyampaikan pentingnya peningkatan kapasitas para da’i dan mubaligh Muhammadiyah agar mampu menjawab berbagai tantangan dakwah di era modern. Ia menjelaskan bahwa dakwah tidak hanya berkaitan dengan penyampaian ceramah atau khutbah, tetapi juga menyangkut pemahaman mendalam terhadap metodologi keilmuan Islam, khususnya manhaj tarjih Muhammadiyah.

Menurutnya, manhaj tarjih merupakan metode ijtihad yang digunakan Muhammadiyah dalam memahami dan menetapkan hukum-hukum Islam berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah dengan pendekatan yang ilmiah dan rasional.

“Seorang mubaligh Muhammadiyah harus memahami bagaimana proses penetapan hukum dalam tarjih, sehingga ketika menyampaikan dakwah kepada masyarakat ia memiliki landasan ilmiah yang kuat,” jelasnya.

Ia juga menegaskan bahwa konsistensi dalam pengamalan tarjih merupakan salah satu ciri khas Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang berkemajuan. Oleh karena itu, para mubaligh Muhammadiyah harus mampu menjadi teladan dalam mengamalkan keputusan-keputusan tarjih dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, Buya Gusrizal juga menyoroti pentingnya kaderisasi dalam persyarikatan. Menurutnya, Muhammadiyah harus terus melahirkan kader-kader dakwah yang memiliki integritas, kapasitas keilmuan, serta komitmen terhadap perjuangan persyarikatan.

Setelah penyampaian pengantar materi, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi interaktif yang dipandu oleh moderator Dr. Ahmad Hamidi, M.A.

Dalam pengantarnya, moderator menyampaikan bahwa sesi diskusi ini merupakan kesempatan berharga bagi para mubaligh Muhammadiyah untuk berdialog langsung dengan Buya Gusrizal mengenai berbagai persoalan dakwah yang mereka hadapi di lapangan.

Diskusi berlangsung dengan sangat dinamis dan penuh antusiasme. Para peserta dari berbagai unsur Muhammadiyah mengajukan pertanyaan serta berbagi pengalaman terkait praktik dakwah di masyarakat.

Beberapa pertanyaan yang muncul dalam diskusi tersebut antara lain berkaitan dengan strategi dakwah Muhammadiyah di tengah masyarakat yang beragam, implementasi keputusan tarjih dalam kehidupan sehari-hari, serta tantangan dakwah di era digital.

Buya Gusrizal menjawab berbagai pertanyaan tersebut dengan penjelasan yang mendalam dan sistematis. Ia menekankan bahwa dakwah Muhammadiyah harus selalu mengedepankan pendekatan yang bijaksana, ilmiah, dan penuh hikmah.

Menurutnya, seorang da’i Muhammadiyah tidak hanya dituntut untuk memiliki kemampuan berbicara, tetapi juga harus memiliki kepribadian yang baik serta menjadi teladan bagi masyarakat.

“Dakwah yang paling efektif adalah dakwah dengan keteladanan. Apa yang kita sampaikan harus sejalan dengan apa yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Diskusi tersebut berlangsung dengan penuh keakraban dan memberikan banyak wawasan baru bagi para peserta yang hadir.

Setelah sesi diskusi berakhir, kegiatan dilanjutkan dengan penyerahan penghargaan kepada Buya Dr. H. Gusrizal Gazahar, L.C., M.Ag sebagai bentuk apresiasi atas kesediaannya berbagi ilmu dan pengalaman dalam kegiatan tersebut.

Penyerahan penghargaan tersebut dilakukan oleh pihak penyelenggara sebagai simbol penghormatan dan ucapan terima kasih atas kontribusi beliau dalam penguatan dakwah Muhammadiyah.

Momentum tersebut juga menjadi bentuk penghargaan terhadap para ulama yang telah berperan besar dalam membimbing umat dan memperkuat pemahaman keagamaan di tengah masyarakat.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penyerahan sertifikat partisipasi kepada para peserta yang telah mengikuti kegiatan silaturahmi tersebut.

Sertifikat tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi para mubaligh dan kader Muhammadiyah dalam kegiatan peningkatan kapasitas dakwah ini.

Selain sertifikat, panitia juga memberikan oleh-oleh berupa sarung kepada para peserta sebagai tanda terima kasih atas kehadiran dan partisipasi mereka dalam kegiatan tersebut.

Penyerahan sarung tersebut disambut dengan penuh kehangatan oleh para peserta. Momen ini sekaligus menjadi simbol kebersamaan dan kekeluargaan dalam lingkungan persyarikatan Muhammadiyah.

Kegiatan Silaturahmi Ulama, Da’i, Mubaligh dan Kader Persyarikatan Muhammadiyah ini tidak hanya menjadi forum ilmiah, tetapi juga menjadi sarana untuk mempererat hubungan antar kader Muhammadiyah di berbagai tingkatan.

Melalui kegiatan ini diharapkan terbangun sinergi yang lebih kuat antara pimpinan Muhammadiyah, Aisyiyah, amal usaha, serta organisasi otonom dalam menjalankan misi dakwah Islam yang berkemajuan.

Selain itu, peningkatan kapasitas para mubaligh juga diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat luas, khususnya dalam menghadirkan dakwah yang mencerahkan, menyejukkan, dan memberikan solusi bagi berbagai persoalan umat.

Dengan terselenggaranya kegiatan ini, Muhammadiyah Bukittinggi diharapkan semakin solid dalam menjalankan peran dakwahnya sebagai gerakan Islam yang berkomitmen untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

Masjid Baitul Jalal Muhammadiyah Bukittinggi pada hari itu tidak hanya menjadi tempat berkumpulnya para ulama dan mubaligh, tetapi juga menjadi ruang lahirnya semangat baru untuk terus memperkuat dakwah Muhammadiyah demi kemajuan umat dan bangsa.